Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat 312 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan Timur selama 1 hingga 12 Oktober 2026. Angka itu muncul di tengah kepungan 12.183 titik panas yang terdeteksi di 33 provinsi pada periode yang sama.
Di Pulau Kalimantan, total titik panas di lima provinsi mencapai 4.674 titik atau sekitar 38 persen dari jumlah nasional. Kalimantan Timur sendiri menjadi salah satu daerah yang kualitas udaranya ikut terdampak, dengan kabut asap yang kembali menyelimuti Kota Balikpapan pada Senin (12/10/2026).
Kalimantan Sumbang 38 Persen Titik Panas Nasional
Berdasarkan data SiPongi, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak pada 1-12 Oktober 2026, yakni 3.268 titik. Disusul Papua Selatan sebanyak 2.921 titik dan Sumatra Selatan 2.376 titik. Di Kalimantan, selain Kalteng, titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat sebanyak 719 titik, Kalimantan Selatan 368 titik, dan Kalimantan Timur 312 titik.
Data harian menunjukkan situasi yang fluktuatif. Pada Senin (12/10/2026), SiPongi+ mencatat 17.108 titik panas di seluruh Indonesia dalam pemantauan 24 jam, turun 2.058 titik dibandingkan hari sebelumnya. Dari jumlah itu, 708 titik berkategori kepercayaan tinggi, 16.174 titik berkategori sedang, dan 226 titik berkategori rendah.
Secara akumulatif, ancaman karhutla tahun ini tergolong berat. SiPongi mencatat luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai 202.004,30 hektare sepanjang Januari hingga Juli 2026, meningkat sekitar 69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Angka itu pun belum mencakup kebakaran pada Agustus hingga Oktober, ketika titik panas melonjak hingga sekitar 16.000 titik.
Kualitas Udara Memburuk
Memburuknya kualitas udara menjadi dampak yang paling dirasakan masyarakat. Pemantauan IQAir pada 12 Oktober 2026 menunjukkan indeks kualitas udara Palangka Raya mencapai 180 atau masuk kategori tidak sehat. Sementara itu pemantauan BMKG di sejumlah titik di Palembang menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada dalam kategori berbahaya.
Di Kalimantan Timur, kabut asap kembali menyelimuti Kota Balikpapan pada Senin (12/10/2026) dan tampak lebih pekat dibanding hari-hari sebelumnya. BMKG mencatat kondisi itu dipengaruhi akumulasi asap karhutla dari daerah sekitar. Jarak pandang di kota tersebut memang terbatas, tetapi masih dalam batas normal.
DPR Dorong Percepatan Penanganan
Dari Senayan, dorongan percepatan penanganan terus menguat. Sekretaris Jenderal PKS Muhammad Kholid menilai kerja sama negara-negara Asia Tenggara dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan dalam penanganan karhutla, meski tanggung jawab utama tetap berada pada pemerintah Indonesia.
Anggota Komisi IV DPR Riyono meminta para pejabat daerah menjaga kepekaan sosial saat menangani karhutla. “Tentu untuk para pejabat daerah, gubernur, bupati, ya Polda, teman-teman Pangdam di sana, sinergi dan kolaborasi untuk terus berupaya semaksimal mungkin memadamkan api,” ujarnya.
Riyono menekankan kesehatan dan keselamatan warga harus menjadi perhatian utama. Menurutnya penanganan karhutla bukan tugas sendiri-sendiri, melainkan tugas bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan aparat terkait.
Sumber Berita : surabayatv35uhf.com, Kompas, infonasional.com, mercuswara.com











