SAMARINDA — Fenomena intrusi air laut di Samarinda berimbas pada terganggunya pasokan kebutuhan air bersih bagi masyarakat. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Bantuas terpaksa menghentikan proses produksi dan distribusi air bersih secara sementara akibat kualitas air baku pada titik pengambilan terinfeksi kadar garam yang tinggi.
Penghentian operasional diambil oleh Perumdam Tirta Kencana Kota Samarinda setelah pemeriksaan laboratorium mengonfirmasi tingkat salinitas atau kandungan klorida pada sumber air baku telah melampaui ambang batas toleransi pengolahan air bersih. Pengolahan air tidak memungkinkan untuk dipaksakan karena air yang dihasilkan tidak memenuhi standar kelayakan konsumsi serta berisiko merusak sistem perpipaan dan mesin instalasi.
Kebijakan penghentian sementara tersebut berdampak langsung pada penghentian aliran air bersih ke pemukiman pelanggan di wilayah Bantuas dan kawasan sekitarnya. Pihak pengelola menyampaikan bahwa penutupan aliran ini merupakan prosedur keselamatan standar demi memastikan kualitas air yang diterima masyarakat tetap terjamin sesuai regulasi kesehatan.
Petugas teknis dari Perumdam Tirta Kencana terus melakukan pengujian kadar salinitas secara berkala pada titik intake sungai. Operasional IPA Bantuas dijadwalkan akan langsung berproduksi kembali secara normal segera setelah tingkat keasinan air baku menyusut dan kembali berada dalam batas aman pengolahan.
Untuk mengantisipasi krisis air bersih selama masa penanganan, pihak pengelola menyiagakan armada truk tangki guna mendistribusikan air bersih secara darurat ke wilayah yang terdampak paling signifikan. Pelanggan diimbau untuk menghemat penggunaan persediaan air yang ada serta berkoordinasi dengan pengurus lingkungan setempat apabila membutuhkan pengiriman bantuan air tangki hingga operasional instalasi kembali pulih.











